Paradigma Baru Arkeologi Islam: Keabadian Nabi Muhammad SAW

Keabadian, kekekalan, kelanggengan tidak pernah ada di dunia. Ia adalah sebuah istilah yang hanya ada di alam akhirat, yakni dimensi alam yang tidak bisa digapai hanya oleh keterbatasan indera manusia seperti penglihatan mata, pendengaran telinga, penciuman hidung. Pendek kata, tidak ada sesuatupun di dunia ini yang kekal dan abadi. Karenanya manusia tidak boleh mencintai dunia secara berlebihan. 


Demikianlah, selama ini pemahaman yang kita peroleh terkait dengan makna kekekalan dan keabadian. ”Namun dalam kenyataan riil, ternyata ada beberapa fakta sejarah manusia yang tidak berubah alias abadi sejak kehadirannya di dunia seribu empat ratus tahun silam hingga hari ini,” ungkap KH. Ng. Agus Sunyoto mengawali ngaji rutin malam, dengan menyinggung pengalamannya mengajar bidang studi Arkeologi Islam di Program Pascasarjana STAINU Jakarta. Para mantri (mahasiswa santri) tercengang heran dengan pernyataan Romo Guru (panggilan akrab KH. Ng. Agus Sunyoto oleh para mantri) yang dinilai kurang lazim itu. Saat itu terbesit sebuah tanya dalam benak para mantri, ”Sejak hadir di dunia seribu empat ratus tahun hingga saat ini tidak berubah? Wah, kekal dong?” hanya saja pertanyaan itu tak sempat tersampaikan oleh karena ngaji baru dimulai.

Romo menjelaskan bahwa keabadian fakta sejarah selama empat belas abad itu tidak terungkap karena sudut pandang arkeologi yang digunakan didasarkan pada paradigma, dogma, doktrin, dan mitos keilmuan bersifat materialis-positivistik. “Itu sebabnya, kalau sejarah Islam dikaji dengan pendekatan arkeologi Barat, hasilnya Islam dianggap sejenis kumpulan dongeng yang dikemas menjadi agama,” kata Romo yang mengaku sedang merintis pengembangan arkeologi Islam dengan pendekatan Post Hegemony karena arkeologi dimaknai sebagai studi sistematik tentang benda-benda kuno yang dijadikan alat untuk merekontsruksi masa lalu.

Kalau dasar pijakan sejarah hanya benda-benda yang disebut artefak, jelas bukti faktual tentang Nabi Muhammad Saw sebagai pembawa Agama Islam akan ditolak. Sebab bukti factual tempat kelahiran Nabi Muhammad Saw sudah tidak ada, bekas rumah beliau di Makkah tidak ada, bekas rumah beliau di Madinah juga tidak ada, bukti peninggalan Al-Qur’an sewaktu beliau hidup juga tidak ada artefaknya, bahkan pada makam beliau juga tidak ada prasasti yang menyebut bahwa itu makam beliau. “Jadi dalam pandangan arkeologi, Islam dibangun oleh orang-orang pada zaman sesudah Nabi Muhammad Saw. Itu artinya, Islam dianggap bukan sesuatu yang historis,” papar Romo menegaskan. Atas dasar pemikiran itu, lanjut Romo, ia mengajukan asumsi dasar baru dalam memaknai arkeologi dengan paradigma, dogma, doktrin, dan mitos baru guna membangun epistemology keilmuan yang obyektif – impersonal tetapi tidak terjebak ke dalam pemaknaan sempit doktriner bersifat materialis-positivistik. Maksudnya, lanjut Romo, arkeologi tidak lagi dimaknai sempit sebagai studi yang mempelajari benda-benda kuno yang disebut artefak melainkan dapat pula dimaknai studi yang mempelajari ide-ide, gagasan-gagasan, faham-faham, konsep-konsep, dan nilai-nilai kuno yang jejaknya dapat dilacak untuk dijadikan wahana merekonstruksi masa silam, di mana fakta-fakta bukan benda bersifat material ini bisa disebut ideofak, ritualofak. “Hampir keseluruhan fondasi dasar Agama Islam bersifat ideofak dan ritualofak.

Keberadaan Islam sebagai bagian dari sejarah manusia, akan terlihat dengan sangat terang-benderang keilmiahannya jika secara harmonis digunakan data artefak, ideofak dan ritualofak,” ungkap Romo menjelaskan. Para mantri masih penasaran dan belum faham dengan apa yang Romo Guru maksudkan. Mereka hanya terpaku memandang wajah Romo Guru yang menyampaikannya sembari tersenyum kecil. Seolah mengerti betapa besar rasa penasaran para mantri, Romo Guru melanjutkan penjelasan tentang ideofak dan ritualofak, ”Surah Al-Fatihah, ibadah Sholat, Adzan, Iqamah, Sholawat adalah ideofak dan ritualofak warisan masa lampau. Sejak kehadirannya di dunia empat belas abad silam hingga hari ini, semuanya masih eksis dijalankan orang. Semua masih dijadikan amalan sehari-hari secara turun-temurun diwariskan dari bapak kepada anak, dari kakek kepada anak cucu. Itu semua adalah fakta historis tentang risalah yang dibawa oleh insan mulia: Muhammad al-Musthofa,” ujar Romo disambut anggukan para mantri yang mulai faham. Adalah fakta tak terbantah jika Surah Al-Fatihah, adalah ideofak yang berasal dari masa silam sekitar seribu empat ratus tahun silam. Fakta menunjuk, dalam sehari semalam al-Fatihah dibaca 17 kali oleh ratusan juta orang dalam setiap sholat fardhu. Selain sholat fardhu yang 5 kali dalam sehari semalam dengan jumlah 17 kali, pada sholat sunnah pun al-Fatihah dibaca, baik sunnah qabliyyah maupun bakdiyyah. Belum terhitung sholat sunnah hajat, tahajjud, witir, taubah, dhuha, tasbih, gerhana, dan beragam jenis sholat lainnya. “Al-Fatihah adalah ideofak yang sudah berusia 1400 tahun, yang sampai saat ini masih dihafal dan dibaca orang,” kata Romo menjelaskan. Ibadah sholat, ungkap Romo, adalah ritualofak yang sudah dilakukan orang sejak 1400 tahun silam, yaitu sejak diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw dan diamalkan sehari lima kali yang diwariskan dari bapak ke anak dari kakek ke cucu hingga saat ini.

Meski ada sejumlah masalah bersifat furu’iyyah, tetapi secara umum ibadah sholat diamalkan dengan tatacara sama mulai takbir, berdiri, ruku’, I’tidal, sujud, duduk tasyahud, hingga berakhir salam. Sejak awal diajarkan sampai sekarang, sholat tidak pernah mengalami perubahan. “Sejak era Nabi Muhammad Saw sampai sekarang, gerakan dan bacaan sholat tidak pernah berubah. Itu data ritualofak yang tidak tersanggah,” ungkap Romo Guru. Dengan pendekatan barunya dalam Arkeologi Islam, Romo Guru menantang ilmuwan sekuler untuk berlomba memecahkan prestasi melalui Guinness Book of The Record yang obyektif dan terbuka, di mana nama Muhammad diajukan sebagai pemegang rekor tak terpecahkan dari pemilik nama yang setiap hari secara terus-menerus disebut orang tanpa berhenti selama 1400 tahun.

Secara rinci Romo mengambil contoh sederhana, bagaimana nama Muhammad dalam satu hari disebut 10 kali oleh Muadzin yang mengumandangkan adzan dan iqamat pada satu masjid. “Tinggal mengalikan saja, berapa kali nama Muhammad disebut oleh Muadzin di Masjid, Mushola, Langgar, Surau, Tajug yang jutaan jumlahnya di seluruh dunia,” ungkap Romo. Jika sholat wajib dalam sehari semalam ada 17 raka’at, ungkap Romo, maka nama Muhammad disebut 20 kali oleh satu orang yang sholat. Jika orang itu menambah sholat sunnah seperti sholat sunnah qabliyyah, ba’diyyah, tahajjud, witir, hajjat, dhuha, tasbih, taubah, gerhana, jenazah, ghaib, tahiyyat al-masjid, dan lain-lain tinggal mengkalikan saja berapa kali nama Muhammad disebut dalam sholat. Kalau sholat jama’ah tinggal melipat-gandakan jumlah orang yang menyebut nama Muhammad. Itu belum terhitung nama Muhammad Saw yang disebut-sebut dalam senandung khasidah sepertu Burdah, Barzanji, Diba’iyyah, dalam tembang-tembang tradisi seperti Terbang Jidor, Kuntulan, Sholawat Emprak, Sholawat Mentaraman, Genjring, Sintren, al-Banjari, bahkan dalam amaliah dzikir yang disebut Sholawat Wahidyyah.

Nama Muhammad setiap hari dikumandangkan di hampir di setiap sudut kehidupan umat Islam di seluruh dunia. Sholawat menyebut-nyebut dan memuji-muji nama Muhammad tidak terbatasi lagi oleh perbedaan suku, ras, bahasa, budaya maupun territorial negara. “Sekali pun ada faham yang melarang orang bersholawat dengan alasan itu perbuatan bid’ah karena tidak ada contoh Rasulullah, dalam fakta kelompok itu hanya menjadi golongan gurem di tengah lautan peradaban manusia-manusia beradab dan berbudaya yang terus mengumandangkan sholawat di berbagai majelis, senandung khasidah, tembang-tembang, doa-doa, dan wirid-wirid rahasia,” ungkap Romo Guru tegas. Menjelaskan rekor nama Muhammad yang tidak terpecahkan karena disebut setiap detik oleh berjuta-juta manusia sepanjang 1400 tahun, Romo menegaskan adanya keterkaitan rahasia antara Dzat Yang Maha-abadi dengan Muhammad Saw. Sejak kelahirannya ke dunia, ungkap Romo, bahkan jauh sebelum kehadirannya di dunia yang fana ini, sewaktu Allah Swt belum menciptakan makhluk, Allah Swt telah lebih dulu menciptakan Nur Muhammad (Cahaya Yang Terpuji).

Dalam Hadits Qudsi Allah Swt berfirman: “Aku ciptakan ruh Muhammad dari cahaya Wajah-Ku”, ”Andaikata engkau tidak Aku cipta, maka cakrawala tidak akan ada”, “laulaaka laulaaka ya muhammad, maa kholaqtu al-aflaq”. Hal itu di-taukidi dengan sabda Nabi Muhammad Saw, “Ana min Nurullah wa kholaq kulluhum min nuuri”, “Aku dari cahaya Allah dan sekalian ciptaan yang lain dari nurku”. Begitulah Ruh Muhammad adalah zat, hakikat dari segala kejadian, permulaan dan kenyataan alam maya, sumber, asal usul dan kediaman bagi sesuatu dan segala-galanya bagi ciptaan. Muhammad adalah nama bagi seluruh kemanusiaan di dalam alam arwah. Lalu, sebagaimana dituturkan dalam kitab Sirrul Asror karya Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jailani, Nur Muhammad yang berada di alam lahut diarahkan turun kepada alam kebendaan, alam jirim, air dan api, tanah dan angin dan mereka menjadi ‘ruh manusia’. Kemudian dari dunia ini Dia ciptakan tubuh yang berdaging, berdarah, sebagaimana sabdaNya “Kemudian Kami jadikan kamu dan kepadanyalah kamu akan dikembalikan dan daripadanya kamu akan dibangkitkan sekali lagi”. (QS. Taha: 55); Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari nafsmu sendiri (QS. At-Taubah: 128).

Allahumma sholli wa sallim ‘ala sayyidinaa Muhammad.

Pelantunan sholawat, papar Romo, jika dipandang secara dhohir sering membuat kita bertanya, “apa faedah nyata dari membaca sholawat?” padahal tidak semua hal yang kita lakukan, terlebih itu adalah bentuk ibadah harus dirasakan faedah nyatanya yang mewujud seketika dalam kehidupan. Tetapi di luar semua pertimbangan terkait manfaat sholawat, Romo meyakini bahwa sholawat memiliki potensi besar bagi kemaslahatan manusia, terutama dalam kaitan dengan usaha peningkatan kecerdasan orang seorang. Dengan keyakinannya itu, pada lembaga-lembaga pendidikan yang diasuhnya mulai tingkat PAUD, TK, MI, hingga kajian Madrasah Diniyyah dan pengajian mahasiswa, sholawat menjadi keniscayaan yang harus diamalkan. Bahkan di TK dan MI, para murid sebelum memulai pelajaran diwajibkan mengikuti pelajaran Intuitive Learning selama 45 menit, yang di dalamnya terdapat bacaan sholawat. Itu sebabnya, lanjut Romo, jika masih ada yang berkata ‘sholawat itu bid’ah’ atau ada yang bertanya ‘Untuk apa bersholawat?’, tentu mereka itu belum jelas memahami firman Allah, innallaha wa malaikatahu yusholluuna ‘alannabiy, yaa ayyuhalladziina amanu shollu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa. [Al-Ahzab: 56].

Yaa Robbi bil musthofa balligh maqooshidanaa, waghfir lanaa maa madho yaa waasi’al karomi…

(Tina Siska Hardiansyah).

0 Response to "Paradigma Baru Arkeologi Islam: Keabadian Nabi Muhammad SAW"

Post a Comment