Menuju Kesadaran Intelejensia

Seseorang yang merasa dirinya lebih hebat dari orang lain adalah orang yang masih pada tahapan kesadaran badan....
Jika seseorang berpuasa karena sesuatu berarti ia belum sampai pada tingkat kesadaran makna puasa. Orang yang masih pada tingkat kesadaran seperti ini sangat pantas dikasihani. Tapi juga tidak salah. Tiada yang salah. Semua mesti melakoni tahapan pembelajaran. Sesungguhnya di dunia ini memang tempat untuk belajar.
Seseorang yang menyadari bahwa kita berada di dunia ini untuk belajar tidak akan mencela atau merendahkan orang lain. Bukankah sering kita berkata bahwa sesama bis kota dilarang saling mendahului? Seseorang yang merasa dirinya lebih hebat dari orang lain adalah orang yang masih pada tahapan kesadaran emosi.  Bahkan mungkin masih berada di tahap kesadaran badan.

Baik kesadaran badan maupun emosi masih belum stabil. Bagaikan awan di langit. Kadang ada kadang tidak. Yang tetap eksis adalah langit. Awan bagaikan hijab. Ketika awan tersingkap, terlihatlah langit berwarna biru. Dan ternyata warna langit biru itupun karena keterbatasan pandangan mata.
Demikian juga rasa takut sesungguhnya hanya bayangan kita saja. Keterbatasan pengetahuan membuat diri kita merasa takut. Bukankah ini ilusi ciptaan kita sendiri juga? Jika kita bisa memahami bahwa ketakutan adalah awan ciptaan kita sendiri, saat itu kita sudah melangkah lebih tinggi.
Langit biru itupun sesungguhnya hanya ada karena keterbatasan pandangan mata. Selama ini kita selalu diberitahu  bahwa langit itu ada. Tapi kita tidak pernah mendalami apakah benar langit ada? Pemahaman tentang Tuhan juga konsep manusia. Konsep ketuhanan ciptaan manusia terjadi karena keterbatasan pandangan atau pengetahuan manusia.
Bagi manusia yang dianugerahi neo cortex atau otak manusia seharusnya melangkah kan pikirannya pada sesuatu yang lebih tinggi. Dalam tempurung kepala manusia ada dua otak. Limbik atau otak hewaniah dan neo cortex. Bagian terakhir inilah yang bisa memahami konsep ketuhanan atau inteljensia.
Limbik berurusan dengan intelek. Intelek selalu mempertimbangkan untung rugi. Ia belum memikirkan hal yang memuliakan jiwa. Bagian ini sangat reaktif. Hewan pun demikian. Sangat reaktif. Disinilah letak ketakutan tersebut.
Neo cortex atau intelegensi bersifat responsif. Selalu menimbang apakah tindakan nya perlu dilakukan atau tidak. Sifat intelegensia selalu menimbang apakah tindakan nya bersifat memuliakan jiwa atau tidak. Tiada lagi ketakutan berdasarkan penilaian orang.
Mari kita berlatih agar bisa melampaui rasa takut. Saatnya melangkah ke tahapan intelejensia.  Tinggalkan area Limbik, Otak hewaniah ( wangsit kompasiana)

0 Response to "Menuju Kesadaran Intelejensia"

Post a Comment