Kisah Santri Muzaki


Jadi Juara Di Pondok 
.
"Abah, nanti waktu Lailatul Imtihaan datanglah ke pondok. Aku menjadi juara !", kata Muzakki di telpon kepada ayahnya di rumah. Ayahnya senang dan bangga mengenang anaknya. Maka beliau datang ke pondok.
.
Dan pada malam Lailatul Imtihaan, Muzakki dipanggil naik keatas panggung, untuk menerima piala juara Sepakbola di pondok. Piala itu diserahkannya kepada sang Abah yang memandangnya terheran heran.
.
"Aku pikir kau menjadi juara baca Kitab Gundul atau Tilawatul Qur'an, Nak", tukas abahnya. 


Tak Butuh Iilmu Tinggi Tinggi 
.
"Aku tak pernah tahu kau beli kitab selama mondok, Nak ?", tanya abah pada Muzakki sewaktu menjenguknya di pondok. "Kalau kakakmu kok minta dibelikan Kitab berjilid jilid banyaknya ?", tambahnya.
.
"Aku juga beli, bah !", tukas Muzakki 
.
Bergegas dia mendekati lemari pribadi dikamarnya dan mengambil sesuatu. Lalu dia tunjukkan didepan abah. Abah memandang kitab - kitab yang ditunjukkan oleh Muzakki.
.
"Kok hanya empat kitab ini selama kau mondok 5 tahun ?". tanya Abah lagi. Itu Kitab Syarah Ajrumiyah, Safinatun Najaah, Sullamut Taufiq, dan Aqidatul Awam.
.
Iya. Selama mondok Muzakki hanya mengaji empat kitab itu yang berbahasa Arab. Dan untuk menjadi orang yang berbahagia, dia memang tak butuh ilmu yang tinggi tinggi, terutama jika kepentingannya hanya untuk mengungguli.
.
Dan setelah keluar dari pondok, dia mengamalkan pelajaran dari tiga kitab saja minus Ajrumiyah. Dan dia hidup bahagia bersama istri dan anaknya. Dia berjualan es degan setiap sore didekat Rumah Sakit Al Irsyad Surabaya. Dia tak punya keinginan tinggi tinggi terhadap dunia yang mampu membuat hatinya gelisah.

(Shohibul Wangsit : Mahesa Gilang Cempaka)

0 Response to "Kisah Santri Muzaki"

Post a Comment