Friday, May 27, 2016

Resep al-Imam al-Ghazali untuk mengobati penyakit bangga diri dan sombong

Resep al-Imam al-Ghazali untuk mengobati penyakit bangga diri dan sombong
Ujub (bangga diri) dan kibr (sombong) adalah penyakit hati yang berbahaya karena kebanyakan penderitanya tidak merasakan apa-apa.
Bahkan ia semakin merasa hebat, yang selalu memposisikan diri sebagai orang yang benar dan terus mencari-cari keburukan orang lain, sehingga dia lupa bahwa dirinya juga manusia biasa yang banyak kekurangan dan penuh keburukan.
Dalam hal ini, al-Imam al-Ghazali (lahir di Thus; Iran 1058 M / 450 H – meninggal di Thus; Iran 1111 M / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) memberikan resep bagus untuk mengobati penyakit hati tersebut dalam kitabnya Bidayatul Hidayah hal 18:


ينبغي ألا تنظر إلى أحد إلا وترى أنه خير منك، وأن الفضل له على نفسك، فإن رأيت صغيرا قلت: هذا لم يعص الله وأنا عصيته، فلا شك أنه خير مني وإن رأيت كبيرا قلت هذا قد عبد الله قبلى، فلا شك أنه خير مني وإن كان عالما قلت: هذا قد أعطى ما لم أعط، وبلغ ما لم أبلغ، وعلم ما جهلت؛ فكيف أكون مثله وإن كان جاهلا قلت: هذا قد عصى الله بجهل، وأنا عصيته بعلم؛ فحجة الله على آكد، وما أدري بم يختم لي وبم يختم له؟ وإن كان كافرا قلت: لا أدري، عسى أن يسلم ويختم له بخير العمل، وينسل بإسلامه من الذنوب كما تنسل الشعرة من العجين، وأما أنا – والعياذ بالله – فعسى أن يضلني الله فأكفر فيختم لي بشر العمل؛ فيكون غدا هو من المقربين، وأنا أكون من المبعدين.



Janganlah kau melihat pada seseorang kecuali kau menilainya bahwa ia lebih baik darimu:
- Jika kau melihat anak kecil, katakanlah: Ia belum pernah bermaksiat pada Allaah. Sedangkan aku telah bermaksiat. Tidak diragukan lagi bahwa ia lebih baik dariku.
- Jika kau melihat orang yang lebih tua maka katakanlah: Orang ini telah beribadah sebelum aku melakukannya. Tidak diragukan lagi bahwa ia lebih baik dariku.
- Jika kau melihat orang alim (berilmu), katakanlah: Orang ini telah memperoleh apa yang belum aku peroleh. Maka, bagaimana aku setara dengannya.
- Jika kau melihat bodoh, katakanlah: Orang ini bermaksiat dalam kebodohan, sedangkan aku bermaksiat dalam keadaan tahu. Maka, tuntutan Allah terhadap diriku lebih berat, dan aku tidak tahu bagaimana akhir hidupnya dan akhir hidupku.
- Jika kau melihat kafir, katakanlah: Aku tidak tahu, bisa saja dia akan menjadi Muslim dan akhir hidupnya ditutup dengan amalan yang baik dan dengan keislamannya dosanya diampuni. Sedangkan aku, -aku berlindung pada Allah dari hal ini-, bisa saja Allah menyesatkan-ku, hingga aku kufur dan menutup usia dengan amalan keburukan. Sehingga ia kelak termasuk mereka yang dekat dengan rahmat Allah sedangkan aku termasuk orang yang jauh dari rahmat-Nya.
Semoga Allah memberikan kita petunjuk dan keselamatan dunia dan akhirat. Amin

Dafid Fuadi

Wali Malamatiyah (Wali Yang Selalu Mendapat Cobaan Dicaci Maki)


oleh : Dafid Fuadi

Malamatiyah secara bahasa artinya seuatu yang bersifat caci maki atau dicaci maki. Dalam Tashawwuf, Malamatiyah adalah perilaku shufi yang menyembunyikan kebaikannya dan yang tampak di mata awam adalah keburukannya sehingga menjadikan ia selalu menjadi sasaran celaan dan cemoohan orang lain. Para Malamatiyah ini lebih suka dicela dari pada dipuji dan lebih suka dihina dari pada dibela. Tujuannya adalah agar bisa mengukuhkan keikhlasannya dalam hati dan terhindar dari hubbul jah (cinta pangkat kehormatan) dan takabbur (kesombongan). Sayid Muhammad bin Abdul Karim al Kasnazan al Husaini (Mursyid Thariqah Qadiriyah dari Iraq, lahir 1358 H/1938 M, beliau sekarang masih aktif) menjelaskan :

الْمَلاَمَتِيَّةُ ، وَهُمُ الَّذِيْنَ لَمْ يُظْهَرْ لِمَا فِي بَوَاطِنِهِمْ أَثَرٌ عَلَى ظَوَاهِرِهِمْ.
(موسوعة الكسنزان فيما اصطلح عليه أهل التصوف والعرفان للسيد محمد بن الشيخ عبد الكريم الكسنزان الحسيني (2/ 11))

Al Malamatiyah adalah mereka yang lahiriyahnya tidak terpengaruh dari ketinggian maqam yang batin mereka. (Mausu’ah al Kasnazan Fima Ishthalaha ‘Alaihi Ahl al-Tashawwuf wa al-‘Irfan karya Sayid Muhammad bin Abdul Karim al Kasnazan al Husaini, (2/ 11))
Meski keberadaan Wali Malamatiyah sendiri masih diperdebatkan di kalangan Ulama Shufi, tapi yang jelas Malamatiyah merupakan maqam tinggi, sulit dan istimewa di kalangan para wali. Sehingga dalam sejarah tashawwuf, disebutkan ada sekolompok ahli sesat dan ma’siat yang mendakwakan diri sebagai wali malamatiyah tapi tujuannya hanya untuk menutupi kesesatannya dan kema’siatannya. Maka dalam hal ini, al-Imam al-Suhrawardi memberikan penjelasan :

إِنَّ مِنْ أُصُولِ الْمَلاَمَتِيَّةِ : أَنَّ الذِّكْرَ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ: ذِكْرٍ بِاللِّسَانِ، وَذِكْرٍ بِالْقَلْبِ، وَذِكْرٍ بِالسِّرِّ، وَذِكْرٍ بِالرُّوحِ. فَإِذَا صَحَّ ذِكْرُ الرُّوحِ سَكَتَ السِّرُّ وَالْقَلْبُ وَاللِّسَانُ عَنِ الذِّكْرِ، وَذَلِكَ ذِكْرُ الْمُشَاهَدَةِ. وَإِذَا صَحَّ ذِكْرُ السِّرِّ سَكَتَ الْقَلْبُ وَاللِّسَانُ عَنِ الذِّكْرِ، وَذَلِكَ ذِكْرُ الْهَيْبَةِ. وَإِذَا صَحَّ ذِكْرُ الْقَلْبِ فَتَرَ اللِّسَانُ عَنِ الذِّكْرِ، وَذَلِكَ ذِكْرُ اْلآلاَءِ وَالنَّعْمَاءِ. )كتاب عوارف المعارف للسهروردي (1/ 64)(

“Sesungguhnya di antara pokok-pokok (amalan) Malamatiyah, sesungguhnya dzikir itu ada empat macam: dzikir lisan, dzikir qalbi, dzikir sirri dan dzikir ruh. Jika ruh sudah berdizikir, maka sirri, hati dan lisan diam dari dzikir, inilah yang disebut dzikir musyahadah. Jika sirri sudah dzikir, maka hati dan lisan diam dari dzikir, inilah yang disebut dzikir haibah. Dan jika hati sudah dzikir, maka lisan berhenti dari dzikir, inilah yang disebut dzikir karunia dan anugrah. (‘Awariful Ma’arif, karya al-Suhrawardi, (1/64))
Siapakah Wali Malamatiyah saat ini? Wallahu a’lam bish shawab.
SEKIAN
‪#‎salam_Aswaja‬

Ma'khadz :
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1220940267924121&set=a.177066402311518.39165.100000244777203&type=3&theater

Monday, May 16, 2016

Dalam Bayang Kehormatan Semu

Suatu malam, Jalaluddin Ar Rumi mengundang gurunya Syech Syamsuddin Tabrizi ke rumahnya. Sang Mursyid Syamsuddin pun menerima undangan muridnya itu dan datang ke kediaman Rumi.

Setelah semua hidangan makan malam siap, Syech Syamsudin berkata pada Rumi; “Apakah kau bisa menyediakan minuman untukku?”. (yang dimaksud : arak / khamr)

Rumi kaget mendengarnya, “memangnya anda juga minum?’.

“Iya”, jawab Syech Syams.

Rumi masih terkejut, ”maaf, saya tidak mengetahui hal ini”.

“Sekarang kau sudah tahu. Maka sediakanlah”. kata Syech Syams.

Ar Rumi: “Di waktu malam seperti ini, dari mana aku bisa mendapatkan arak?”.

Syech Syams: “Perintahkan salah satu pembantumu untuk membelinya”.

Ar Rumi: “Kehormatanku di hadapan para pembantuku akan hilang”.

Syech Syams: “Kalau begitu, kau sendiri pergilah keluar untuk membeli minuman”.

Ar Rumi: “Seluruh kota mengenalku. Bagaimana bisa aku keluar membeli minuman?”.

Syech Syams: “Kalau kau memang muridku, kau harus menyediakan apa yang aku inginkan. Tanpa minum, malam ini aku tidak akan makan, tidak akan berbincang, dan tidak bisa tidur”.

Karena kecintaan kepada gurunya Syech Syams, akhirnya Rumi memakai jubahnya, menyembunyikan botol di balik jubah itu dan berjalan ke arah pemukiman kaum Nasrani.

Sampai sebelum ia masuk ke pemukiman tersebut, tidak ada yang berpikir macam-macam terhadapnya, namun begitu ia masuk ke pemukiman kaum Nasrani, beberapa orang terkejut dan akhirnya menguntitnya dari belakang.

Mereka melihat Rumi masuk ke sebuah kedai arak. Ia terlihat mengisikan botol minuman kemudian ia sembunyikan lagi di balik jubah lalu keluar.

Setelah itu ia diikuti terus oleh orang-orang yang jumlahnya bertambah banyak. Hingga sampailah Rumi di depan masjid tempat ia menjadi imam bagi masyarakat kota.

Tiba-tiba salah seorang yang mengikutinya tadi berteriak; “Ya ayyuhan naas, Syeikh Jalaluddin yang setiap hari jadi imam shalat kalian baru saja pergi ke perkampungan Nasrani dan membeli minuman!!!”.

Orang itu berkata begitu sambil menyingkap jubah Rumi. Khalayak melihat botol yang dipegang Rumi. “Orang yang mengaku ahli zuhud dan kalian menjadi pengikutnya ini membeli arak dan akan dibawa pulang!!!”, orang itu menambahi siarannya.


Orang-orang bergantian meludahi muka Rumi dan memukulinya hingga serban yang ada di kepalanya lengser ke leher.

Melihat Rumi yang hanya diam saja tanpa melakukan pembelaan, orang-orang semakin yakin bahwa selama ini mereka ditipu oleh kebohongan Rumi tentang zuhud dan takwa yang diajarkannya. Mereka tidak kasihan lagi untuk terus menghajar Rumi hingga ada juga yang berniat membunuhnya.

Tiba-tiba terdengarlah suara Syech Syams Tabrizi; “Wahai orang-orang tak tahu malu. Kalian telah menuduh seorang alim dan faqih dengan tuduhan minum khamr, ketahuilah bahwa yang ada di botol itu adalah cuka untuk bahan masakan."

Seseorang dari mereka masih mengelak. “Ini bukan cuka, ini arak”. Syech Syams mengambil botol dan membuka tutupnya. Dia meneteskan isi botol di tangan orang-orang agar menciumnya. Mereka terkejut karena yang ada di botol itu memang cuka. Mereka memukuli kepala mereka sendiri dan bersimpuh di kaki Rumi. Mereka berdesakan untuk meminta maaf dan menciumi tangan Rumi hingga pelan-pelan mereka pergi satu demi satu.

Rumi berkata kepada Syech Syams, “Malam ini kau membuatku terjerumus dalam masalah besar sampai aku harus menodai kehormatan dan nama baikku sendiri. Apa maksud semua ini, guru?”.

“Agar kau mengerti bahwa wibawa yang kau banggakan ini hanya khayalan semata. Kau pikir penghormatan orang-orang awam seperti mereka ini sesuatu yang abadi?. Padahal kau lihat sendiri, hanya karena dugaan satu botol minuman saja semua penghormatan itu sirna dan mereka jadi meludahimu, memukuli kepalamu dan hampir saja membunuhmu. Inilah kebanggaan yang selama ini kau perjuangkan dan akhirnya lenyap dalam sesaat."

"Maka bersandarlah pada yang tidak tergoyahkan oleh waktu dan tidak terpatahkan oleh perubahan zaman"
"Bersandarlah hanya kepada Allah SWT."

Wangsit:  kumpulan kisah Jalaluddin Rumi.✍

Friday, May 13, 2016

Kisah Santri Muzaki


Jadi Juara Di Pondok 
.
"Abah, nanti waktu Lailatul Imtihaan datanglah ke pondok. Aku menjadi juara !", kata Muzakki di telpon kepada ayahnya di rumah. Ayahnya senang dan bangga mengenang anaknya. Maka beliau datang ke pondok.
.
Dan pada malam Lailatul Imtihaan, Muzakki dipanggil naik keatas panggung, untuk menerima piala juara Sepakbola di pondok. Piala itu diserahkannya kepada sang Abah yang memandangnya terheran heran.
.
"Aku pikir kau menjadi juara baca Kitab Gundul atau Tilawatul Qur'an, Nak", tukas abahnya. 

Saturday, May 7, 2016

Sumpahku, Tak Sudi Aku Cium Tangan Gus Dur

Saat nyantri di sebuah pesantren, bahkan awal-awal kuliah ada 2 hal yang ekstrim dan kaku dalam cara pandang dan sikap keislamanku. Pertama, saya anti Pancasila. Kedua, sumpahku: saya tidak akan cium tangan Gus Dur. Mengapa? Wali ke-10 ini, dulu saat saya baru melek dunia intelektual, bagi saya merusak Islam, agen Yahudi dan pemikirannya aneh, nyeleneh dan bikin pusing. Gak mudeng..!

Padahal, secara sosiologi dan budaya saya lahir dari keluarga NU.KH. Zayyadi, kakekku santri Mbah Kholil. Waliyullah dan guru bagi kiai-kiai se-Madura dan Jawa. Satu "kotakan", gubuk dan ruangan dengan KH. As'ad Syamsul Arifin Situbondo.

Bagaimana saya bisa cinta pemikiran keislaman Gus Dur?Bgimna sy batalkan sumpah,bahkan dengan lahap mencium tangannya?

Akhir 99, pasca lepas dari sektariat Golkar di MPR, saya ngajar di SMU Madania Bogor. Sekolah berasrama ini digagas oleh Cak Nur. Di sinilah saya mulai dekat, mengenal, membaca dan sesekali ngobrol bila beliau datang. Secara intens saya diasah oleh suhu Nafis, muridnya dan direktur boarding ini. Sejak itu saya menikmati garis metodologi dan ideologi keislaman, keindonesian dan kemodernan. Akrablah saya dengan istilah inklusivisme, al-hanifiyat al-samhah, toleransi, pluralisme, egaliter, Piagam Madinah dll. Pokoknya wacana Islam kontemporer.

Saat nempuh S-2, saya lebih dekat lagi dengan Cak Nur. Saya jadi staf di Yayasan Wakaf Paramadina. Bahkan diusulkan jadi sekpri beliau. Tak jadi karena hal lain.

Cak Nur dan Gus Dur itu berkeluarga dan berkarib sangat dekat. Itulah penyambung saya ke Gus Dur. Kapan saya awal kali nyium tangan Gus Dur?

Saat ultah Paramadina. Saat itu saya jadi penanggung jawab Klub Kajian Agama (KKA). Rangkaian acaranya,salah satunya bedah buku. Lokasinya di kampus Paramadina. Narsumnya Gus Dur dan Kang Jalal.

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Para undangan: ada menteri, pejabat, dosen, para civitas kampus dan jamaah sudah resah. Gus Dur tidak muncul2. Sebagai penanggung jawab acara saya panas dingin. Ketua Yayasan suda gak sabar dan minta tanggung jawabku.

Saya telpon mas Sulaiman, ajudan Gus Dur. Beliau ada di PBNU. Tapi, "Gus Dur tidur mas. Saya tidak berani bangunin", katanya. Waduh, mumet, keringatan dan meriang diriku.

Saya membeku di teras lobby kampus . Sendirian. Lalu saya baca fatihah. "Gus, bangun. Kalau tidak, sungguh saya tidak akan pernah cium tangan jenengan", batinku bicara mengarah ke Gus Dur. Tiba2, Sulaiman telpon. "Gus Dur sudah bangun dan otw ke kampus", infonya.

Tak lebih 15 menit mobilnya sudah tiba di halaman kampus. Saya songsong kursi rodanya. Saya jemput tangannya dan saya cium beberapa kali. "Maafkan saya Gus", kataku. "Tak apa.Kamu kan gak kenal saya saat itu", jawabnya. Lho, ya, Allah, bagaimana ia tahu sumpah kurang ajarku saat masa lalu?!. Aku kangen jenengan Gus. Lahu alfatihah.

(Wangsit: Pengakuan mohamad monib via Syaikh G Oogle dimuat di Grop Sarkub)
: